Ternyata Virus Ebola Dapat Mengendap di Sperma Selama 9 Bulanan
loading...
Seputar Kesehatan - Di awal kemunculan wabah Ebola di Afrika, WHO meminta tim medis untuk
terus memeriksa para penyintas dalam kurun tiga bulan setelah dinyatakan
sembuh untuk memastikan virus itu benar-benar hilang. Apalagi virus ini
bisa tinggal di dalam sperma dengan 'nyaman'.
Namun teori itu
dilunturkan peneliti lain yang menemukan bahwa virus Ebola bisa bertahan
dalam tubuh manusia hingga enam bulan setelah terinfeksi. Tapi nyatanya
korban tetap berjatuhan walaupun tidak sebanyak ketika wabah Ebola
pertama kali muncul.
WHO pun tergerak untuk melakukan penelitian
baru untuk memastikan hal ini. Hasilnya, virus Ebola tak lagi hanya
bertahan 3 atau 6 bulan saja, tetapi sampai 9 bulan lamanya. Fakta ini
didapat peneliti setelah mengamati sampel air mani dari 93 pria asal
Sierra Leone.
Hanya
saja peneliti belum dapat memastikan apakah itu berarti virusnya masih
dapat menginfeksi atau tidak. Namun nampaknya risiko tersebut cenderung
menurun dari waktu ke waktu. Terbukti virus Ebola tetap terdeteksi dalam
tubuh 9 pria yang sudah menjalani pemeriksaan yang sama 2-3 bulan
setelah gejalanya pertama kali muncul. Kendati begitu, virus ini hanya
ditemukan pada 11 dari 43 penyintas yang diperiksa lagi di bulan ke-7
dan 9.
"Kami tak paham mengapa Ebola bisa tetap berada dalam air
mani dalam waktu selama itu, dan apakah ini juga bisa menular atau
tidak. Mungkin ada potensi ke sana tapi kami tak benar-benar yakin,"
tutur Dr Nathalie Broutet, ahli penyakit menular seksual dari WHO dan
salah satu peneliti seperti dikutip dari ABC News.
Permasalahan
lain muncul ketika Dr Francis Moses, salah satu tim medis yang bertugas
di Sierra Leone bagian utara mengaku kewalahan untuk meyakinkan agar
para penyintas Ebola menggunakan kondom atau puasa berhubungan setelah
dinyatakan pulih.
"Di distrik kami, ada sejumlah wanita yang
sedang hamil dan kebetulan suaminya adalah penyintas Ebola. Mereka tidak
bisa diberitahu," paparnya.
Untungnya,
penularan virus Ebola lewat hubungan seksual tergolong langka. Selain
lewat hubungan seksual, sebagian besar kasus Ebola yang ditemukan
menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita seperti
darah, air liur, air susu ibu (ASI) dan urine.(lll/up)

Post a Comment