Ternyata Terlalu Sering Mengorek Kuping, Mengakibatkan Liang Telinga Menjadi Sarang Jamur
loading...
Fakta Unik Tentang Korek Kuping - Sebuah pengalaman pribadi yang perlu saya share agar pembaca medianers bisa mengambil manfaatnya dari akibat kebiasaan buruk membersihkan liang telinga dari kotoran menggunakan cutton buds dan pengait dari besi
Manfaat bagi pembaca yang saya maksud adalah jangan pernah
mengikuti cara saya yang salah dalam membersihkan kotoran dari liang
telinga.
Bermula dari terlalu sering menjaga kebersihan liang telinga dengan cara
mengorek kuping menggunakan cuttons buds dan pengait dari besi setiap
hari, menjadi sebuah kebiasaan berakibat fatal bagi kesehatan telinga.
Persediaan cutton buds tidak pernah cukup di rumah saya, karena saking
seringnya mengorek liang telinga. Berhubung terlalu banyak menggunakan,
suatu ketika istri saya membelikan korek kuping dari besi, tujuan
berhemat. Di ujung besi pengait kotoran ada seperti pengait mirip
sendok, yang fungsinya untuk mengangkat kotoran telinga.
Sebagaimana diketahui, bahwa mengorek kuping itu enak, semakin di gili rasanya semakin asoy . Kemudian,
karena sudah kebiasaan kadang-kadang meskipun tidak ada kotoran, tetap
juga ada rasa "sesuatu" di liang telinga dan rasa ingin mengorek liang
telinga pun muncul. Akibat keseringan liang telinga menjadi lecet. Apa
bila lecet, kulit liang telinga akan berair bercampur serumen. Otomatis
liang telinga menjadi lembab.
Baca Juga: Ini Ketiga Fakta Unik Tentang Perawat, Bidan dan Dokter
Baca Juga: Ini Ketiga Fakta Unik Tentang Perawat, Bidan dan Dokter
Hawa lembab pada liang telinga merupakan media empuk tumbuhnya jamur.
Sebab, liang telinga memiliki potensi tempat tumbuhnya jamur, struktur
liang telinga terlindung dari cahaya matahari langsung sehingga
kelembaban terjaga. Terutama pada orang yang tinggal di daerah tropis,
apa lagi kalau sudah ada faktor pemicu, maka jamur Species Aspergillus,Candida, dan Aspergillus Niger sangat berterima kasih karena merasa dapat tempat untuk berkembang biak di dalam liang telinga.
Apabila jamur berkembang biak di liang telinga, rasa gatalnya minta
"ampun" keinginan untuk mengorek kumat lagi untuk menggaruk gatalnya.
Merupakan kesalahan fatal, sebab menambah lecet pada liang telinga
sehingga kemungkinan jamur tambah luas sangat berpotensi.
Selain rasa gatal, rasa sakit juga menyertai, dan rasa tidak mengenakan
di telinga pun menambah keluhan. Kemudian yang lebih parah di liang
telinga tumbuh gumpalan kecil berwarna putih seperti kotoran, yang
mengeluarkan aroma tidak sedap.
Serangkaian pragraf diatas telah saya alami, rasanya begitu menyiksa, selain memalukan juga sangat menganggu.
Suatu ketika saya konsulkan keluhan ini pada salah seorang ahli
tenggorokan, hidung dan telinga (THT). Dan, beliau meresepkan obat
antibiotik, anti inflamasi dan antihistamin setelah melihat dari hasil
pemeriksaan.
Tiga hari setelah mengkonsumsi obat, tidak ada kemajuan, malahan teman
saya melihat. Ada apa dengan telingamu kawan? Memang bikin malu, tapi
bukan "aib" ini hanya sebuah kesalahan, karena ketidak tahuan dan
kebiasaan buruk berakibat fatal saat membersihkan telinga.
Baca Juga: Pengobatan Tradisional Menggunakan Bawang Untuk Mengatasi Penyakit Bisulan
Tiga (3) minggu yang lalu saya memeriksakan lagi pada salah seorang dokter ahli THT, ini pertama kali saya memeriksakan pada beliau, sebut saja ia dr. Tuti Nelvia,Sp.THT beliau baru menyelesaikan pendidikan spesialis di UNAND (2015), saat ini praktek tiap hari Senin, Kamis dan Sabtu di Poliklinik RSUD dr Adnaan WD Payakumbuh.
Baca Juga: Pengobatan Tradisional Menggunakan Bawang Untuk Mengatasi Penyakit Bisulan
Tiga (3) minggu yang lalu saya memeriksakan lagi pada salah seorang dokter ahli THT, ini pertama kali saya memeriksakan pada beliau, sebut saja ia dr. Tuti Nelvia,Sp.THT beliau baru menyelesaikan pendidikan spesialis di UNAND (2015), saat ini praktek tiap hari Senin, Kamis dan Sabtu di Poliklinik RSUD dr Adnaan WD Payakumbuh.
Dari hasil pemeriksaannya, saya di diagnosis otomikosis , yaitu tumbuhnya jamur di liang telinga, berdasarkan hasil insfeksi melalui otoskop alat pemeriksaan dilengkapi lampu untuk menerawang liang telinga maka ia mengambil kesimpulan bahwa saya mengalami otomikosis.
Lalu, telinga saya dibersihkan dengan kapas dan di olesi salep anti
jamur. Dan boleh pulang. Beliau meresepkan obat, anti gatal-gatal di
hentikan penggunaannya apabila jika tidak lagi gatal-gatal pada liang
telinga.
Lantas saya berkata, "Apakah tidak diresepkan antibiotik?"
dr.Tuti Nelvia,Sp.THT menjawab, " Tidak perlu, telinga kamu bukan
infeksi, tapi berjamur, jika diberi antibiotik maka jamurnya makin
bertambah."
Dokter Tuti juga menambahkan, "penyakit ini tidak mengancam nyawa, tapi
penyembuhan cukup lama. Kamu harus rajin kontrol, dan jangan
sekali-kali membersihkan telinga di rumah, baik membersihkan dengan
cutton buds, ataupun mengorek dengan jari, karena hanya memperburuk
keadaan. Jika sudah merasakan tidak nyaman di telinga, konsul lagi ke
poliklinik."
Pada konsul ke dua, saya sudah merasakan tidak nyaman di liang telinga. Dokter Tuti, membersihkan dengan cara spulling yaitu
membersihkan dengan menyuntikkan air ke liang telinga, tujuannya untuk
membersihkan bagian liang dalam, jika di korek akan menimbulkan resiko.
Kemudian mengeringkan liang telinga dengan kapas, prinsipnya liang
telinga tidak boleh basah atau lembab. Dokter Tuti pun berpesan "
kontrol lagi kesini ya jika masih ada keluhan." Serta menandaskan
konsul, bahwa " jangan korek dengan cutton buds di rumah ya, bawa lagi
kesini, biar tuti yang membersihkan."
Kembali pada perkara korek-mengkorek liang telinga dengan cutton buds,
sebetulnya tanpa di korek pun kotoran yang ada di liang telinga akan
keluar dengan sendirinya, berkat adanya gerakan mengunyah dan aktifitas
otot, sehingga kotoran yang kering tersembul keluar. Di harapkan lebih
bijak menggunakan cutton buds, cukup untuk membersihkan telinga bagian
luar saja.
Pengait kotoran telinga terbuat dari besi, jangan pernah gunakan, sebab
sangat rentan mencederai liang telinga, baik terbuat dari besi ataupun
cutton buds di tujukan untuk mengorek liang telinga bagian dalam
sebaiknya di hindari. Jika benar-benar menganggu maka penanganannya
serahkan pada dokter ahli THT, agar kemudian hari anda tidak menyesal
seperti saya.
Terakhir, pengalaman ini saya tuliskan tidak bermaksud lain-lain atau
cari sensasi, hanya tujuan berbagi, dengan harapan semoga membawa
manfaat bagi pembaca. Anton wijaya
Post a Comment