Inilah Untung Ruginya Bagi Anda Yang Suka Mengkonsumsi Garam Bagi Kesehatan
loading...
Dari segi kesehatan, mengonsumsi garam dipercaya dapat menyebabkan tekanan darah tinggi. Namun, menghilangkan garam sama sekali juga dinilai bukan hal yang baik. Mengingat garam juga memiliki manfaat bagi tubuh.
Gaya Hidup - Dalam buku Bahaya Gula, Garam dan Lemak, Retno Sasongkowati, S.Pd., S.Si., M.Kes menuturkan bahwa garam memiliki dua komponen dasar berupa natrium dan klorin.
Klorin dalam garam diperlukan tubuh dalam pembentukan asam klorida yang bisa membantu membunuh kuman penyakit di lambung.
Natrium dalam garam berfungsi untuk menjaga saraf tubuh kita yang bertugas mengirimkan pesan ke seluruh tubuh dan juga menguatkan otot dalam bekerja.
Garam juga membantu mengendalikan gula darah dengan cara meningkatkan sensitivitas insulin. Selain itu, garam juga merupakan antihistamin alami. Dengan sedikit garam ditaburkan di lidah, dapat membantu memperbaiki reaksi alergi atau serangan asma.
Garam dipercaya dapat meningkatkan kualitas tidur karena dapat menekan hormon stres dan meningkatkan tingkat metabolisme.
Dilansir dari situs Alodokter, konsumsi garam per hari bisa disesuaikan dengan usia seseorang, sebagai berikut:
Survei terhadap 100 ribu orang dewasa berusia 35 hingga 70 tahun di seluruh dunia menyatakan bahwa mengonsumsi lebih banyak garam daripada yang disarankan tidak terlalu buruk bagi kesehatan, selama Anda tidak memiliki tekanan darah tinggi.
Saat mengonsumsi garam terlalu banyak, akan ada masalah kesehatan yang terjadi, seperti hipertensi, penyakit kardiovaskular dan strok, dehidrasi, gastroenteritis, osteoporosis, dan masalah ginjal.
Ada pun tanda-tanda saat tubuh kelebihan garam, seperti mulut terasa kering, kepala terasa berat, sering buang air kecil, dan dehidrasi.
Menurut Dr Zachary Bloomgarden, profesor di Mount Sinai School of Medicine, New York, sekitar 50 sampai 70 juta orang di Amerika Serikat memiliki hipertensi, dan semuanya akan mendapat manfaat dari diet rendah garam.
Dr Zachary pun menuturkan bahwa masalahnya adalah garam itu sangat enak, sama seperti gula.
Rachel Johnson, profesor gizi di University of Vermont, Burlington, menyatakan bahwa kelebihan natrium meningkatkan tekanan darah karena mengandung kelebihan cairan dalam tubuh, dan itu menciptakan beban tambahan pada jantung.
Membatasi natrium akan sulit karena sekitar 75 persen sodium dalam makanan orang Amerika berasal dari makanan olahan, bukan garam yang kita tambahkan di meja. Bahkan, makanan seperti roti dan sereal bisa mengandung garam dalam jumlah banyak.
Bila mengurangi konsumsi garam terasa berat, Anda bisa menggunakan bumbu lain pengganti garam pada makanan, seperti bawang merah dan bawang putih, air perasan lemon, jeruk dan kulit jeruk, cuka, cabai, jamur, kayu manis, kunyit, daun bawang, ketumbar, jintan, oregano, dan paprika.
Penulis: Dian Afrilliana
Gaya Hidup - Dalam buku Bahaya Gula, Garam dan Lemak, Retno Sasongkowati, S.Pd., S.Si., M.Kes menuturkan bahwa garam memiliki dua komponen dasar berupa natrium dan klorin.
Klorin dalam garam diperlukan tubuh dalam pembentukan asam klorida yang bisa membantu membunuh kuman penyakit di lambung.
Natrium dalam garam berfungsi untuk menjaga saraf tubuh kita yang bertugas mengirimkan pesan ke seluruh tubuh dan juga menguatkan otot dalam bekerja.
Garam juga membantu mengendalikan gula darah dengan cara meningkatkan sensitivitas insulin. Selain itu, garam juga merupakan antihistamin alami. Dengan sedikit garam ditaburkan di lidah, dapat membantu memperbaiki reaksi alergi atau serangan asma.
Garam dipercaya dapat meningkatkan kualitas tidur karena dapat menekan hormon stres dan meningkatkan tingkat metabolisme.
Dilansir dari situs Alodokter, konsumsi garam per hari bisa disesuaikan dengan usia seseorang, sebagai berikut:
- Bayi di bawah setahun: kurang dari 1 gram.
- 1-3 tahun: 2 gram atau setara dengan 0,8 gram natrium.
- 4-6 tahun: 3 gram atau setara dengan 1,2 gram natrium.
- 7-10 tahun: 5 gram atau setara dengan 2 gram natrium.
- Usia 11 tahun ke atas: 6 gram atau setara dengan 2,4 gram natrium.
Survei terhadap 100 ribu orang dewasa berusia 35 hingga 70 tahun di seluruh dunia menyatakan bahwa mengonsumsi lebih banyak garam daripada yang disarankan tidak terlalu buruk bagi kesehatan, selama Anda tidak memiliki tekanan darah tinggi.
Saat mengonsumsi garam terlalu banyak, akan ada masalah kesehatan yang terjadi, seperti hipertensi, penyakit kardiovaskular dan strok, dehidrasi, gastroenteritis, osteoporosis, dan masalah ginjal.
Ada pun tanda-tanda saat tubuh kelebihan garam, seperti mulut terasa kering, kepala terasa berat, sering buang air kecil, dan dehidrasi.
Menurut Dr Zachary Bloomgarden, profesor di Mount Sinai School of Medicine, New York, sekitar 50 sampai 70 juta orang di Amerika Serikat memiliki hipertensi, dan semuanya akan mendapat manfaat dari diet rendah garam.
Dr Zachary pun menuturkan bahwa masalahnya adalah garam itu sangat enak, sama seperti gula.
Rachel Johnson, profesor gizi di University of Vermont, Burlington, menyatakan bahwa kelebihan natrium meningkatkan tekanan darah karena mengandung kelebihan cairan dalam tubuh, dan itu menciptakan beban tambahan pada jantung.
Membatasi natrium akan sulit karena sekitar 75 persen sodium dalam makanan orang Amerika berasal dari makanan olahan, bukan garam yang kita tambahkan di meja. Bahkan, makanan seperti roti dan sereal bisa mengandung garam dalam jumlah banyak.
Bila mengurangi konsumsi garam terasa berat, Anda bisa menggunakan bumbu lain pengganti garam pada makanan, seperti bawang merah dan bawang putih, air perasan lemon, jeruk dan kulit jeruk, cuka, cabai, jamur, kayu manis, kunyit, daun bawang, ketumbar, jintan, oregano, dan paprika.
Penulis: Dian Afrilliana
Post a Comment