Gemar Menimbun Barang Merupakan Kepribadian Yang Buruk
loading...
Apakah kondisi rumah Anda dalam dua tiga bulan ini seperti gambar di atas? Timbunan barang semakin banyak dan menyita tempat karena hobi menyimpan barang yang sudah tidak bisa digunakan lagi.
Gaya Hidup - Kebiasaan--atau bisa dikatakan hobi--menimbun barang tidak baik. Perilaku ini ternyata merupakan salah satu gangguan kejiwaan yang dinamakan hoarding disorder.
Menurut deskripsi dari International Obsessive Compulsive Disorder (OCD) Foundation, orang yang memiliki karakter hoarder adalah mereka yang merasa kesulitan membuang--atau mendaur ulang, menjual, menyumbangkan--barang-barang mereka sehingga memengaruhi kondisi hidup hingga tempat tinggal mereka.
Tapi hasil penelitian yang telah dipublikasikan di jurnal kesehatan Archives of General Pscyhiatry menunjukkan bawah orang yang gemar menimbun barang bukan hanya tentang OCD seperti yang telah lama diungkap oleh para pakar.
Dalam sebuah penelitian, para ilmuwan menemukan pasien yang gemar menimbun barang memiliki aktivitas abnormal pada otak, tepatnya bagian korteks singulata anterior dan daerah lain yang memengaruhi pengambilan keputusan dan kategorisasi.
Saat diminta menentukan barang yang bukan milik mereka, aktivitas bagian otak tersebut cenderung rendah. Namun, ketika diminta memutuskan tentang nasib barang milik mereka, wilayah ini menunjukkan sinyal pencitraan resonansi magnetik fungsional yang berlebihan dibandingkan dengan dua kelompok lain.
Temuan ini mungkin menjelaskan mengapa orang memiliki sikap yang berbeda terhadap barang pribadi. Gangguan penimbunan dikategorikan sebagai ketidakmampuan yang berlebihan untuk membuang benda-benda, mengakibatkan kekacauan yang melemahkan, begitu tulis para peneliti dalam studi yang dipimpin oleh David Tolin dari Yale University.
Dr Tolin mengatakan perbedaan fungsi saraf ini berkorelasi secara signifikan dengan tingkat keparahan penumpukan dan penilaian diri terhadap keraguan di antara pasien dengan gangguan penimbunan dan tidak dapat diobati dengan gejala OCD atau depresi.
Dia mengatakan bahwa temuan tersebut menunjukkan masalah dalam proses pengambilan keputusan yang berkontribusi terhadap kesulitan pasien dalam membuang barang. Dikatakan oleh Dr. Tolin, ada perasaan subjektif bahwa keputusan yang salah sedang dibuat.
Ketidakmampuan untuk memilah barang kemudian membuang sebagian karena merasa benda-benda tersebut mungkin masih bisa digunakan atau dianggap memiliki kenangan. Ada keterikatan antara seseorang dengan benda-benda yang dimiliki.
Menurut Dr. Randy Frost, profesor psikologi di Smith College, Northampton, Amerika, personal history ini dianggap memberikan identitas pada diri seseorang dan memiliki barang tersebut dianggap bergengsi.
Penimbunan barang perlahan tapi seiring berjalan waktu dan bertambahnya jumlah barang, membuat setiap sudut ruangan menjadi tempat yang tidak nyaman dan berbahaya. Jika terus menerus dan tidak diatasi gangguan ini akan terus berlanjut.
Akibatnya orang yang hobi menimbun barang tidak bisa, dan tidak akan, dengan leluasa melepaskan barang-barang betapa pun tidak pentingnya, tak peduli betapa tidak aman dan tidak sehatnya lingkungan mereka.
Seperti pengalaman pembawa acara televisi Jasmine Harman dilansir Daily Mail. Jasmine membuat sebuah film dokumenter tentang perjuangan ibunya Vasoulla untuk memerangi penimbunan ekstrem.
Rumahnya di London dipenuhi dari lantai ke langit-langit dengan pakaian, tas mainan, bahkan potongan peralatan rusak yang telah terakumulasi lebih dari 30 tahun.
Jadi jangan anggap sepele hobi menimbun barang, jika dibiarkan berlarut dan akan mengalami kerugian. Mulai dari gangguan kesehatan hingga hubungan antar personal, seperti ditulis Mayoclinic, misal, tidak mau rumahnya di kunjungi orang lain karena malu rumahnya berantakan, dan ada kecenderungan menutup diri.
Sayangnya orang yang hobi menimbun barang sering tidak menyadari bahwa kegemaran mengumpulkan barang ini memiliki masalah cukup berat dan mereka perlu bantuan psikiater atau penata barang profesional.
Ada baiknya kalau Anda juga mengecek kondisi rumah sendiri.
Apakah barang-barang sudah tidak bisa lagi disusun rapi dan akhirnya menumpuk di beberapa ruangan rumah. Seperti lemari pakaian penuh, sehingga baju ditempatkan di luar, sofa tidak bisa diduduki karena tumpukan buku, atau ada banyak barang yang diletakkan di kamar karena sudah tidak muat lagi di gudang.
Rumah menulis, setidaknya jika masih melakukan kebiasaan menyimpan barang tidak terpakai lagi karena alasan nilai sejarah, jarang menyortir barang dan hobi belanja ini itu, maka tampaknya Anda berpotensi menjadi seorang penimbun barang.
Penulis: Febria Silaen
Gaya Hidup - Kebiasaan--atau bisa dikatakan hobi--menimbun barang tidak baik. Perilaku ini ternyata merupakan salah satu gangguan kejiwaan yang dinamakan hoarding disorder.
Menurut deskripsi dari International Obsessive Compulsive Disorder (OCD) Foundation, orang yang memiliki karakter hoarder adalah mereka yang merasa kesulitan membuang--atau mendaur ulang, menjual, menyumbangkan--barang-barang mereka sehingga memengaruhi kondisi hidup hingga tempat tinggal mereka.
Tapi hasil penelitian yang telah dipublikasikan di jurnal kesehatan Archives of General Pscyhiatry menunjukkan bawah orang yang gemar menimbun barang bukan hanya tentang OCD seperti yang telah lama diungkap oleh para pakar.
Dalam sebuah penelitian, para ilmuwan menemukan pasien yang gemar menimbun barang memiliki aktivitas abnormal pada otak, tepatnya bagian korteks singulata anterior dan daerah lain yang memengaruhi pengambilan keputusan dan kategorisasi.
Saat diminta menentukan barang yang bukan milik mereka, aktivitas bagian otak tersebut cenderung rendah. Namun, ketika diminta memutuskan tentang nasib barang milik mereka, wilayah ini menunjukkan sinyal pencitraan resonansi magnetik fungsional yang berlebihan dibandingkan dengan dua kelompok lain.
Temuan ini mungkin menjelaskan mengapa orang memiliki sikap yang berbeda terhadap barang pribadi. Gangguan penimbunan dikategorikan sebagai ketidakmampuan yang berlebihan untuk membuang benda-benda, mengakibatkan kekacauan yang melemahkan, begitu tulis para peneliti dalam studi yang dipimpin oleh David Tolin dari Yale University.
Dr Tolin mengatakan perbedaan fungsi saraf ini berkorelasi secara signifikan dengan tingkat keparahan penumpukan dan penilaian diri terhadap keraguan di antara pasien dengan gangguan penimbunan dan tidak dapat diobati dengan gejala OCD atau depresi.
Dia mengatakan bahwa temuan tersebut menunjukkan masalah dalam proses pengambilan keputusan yang berkontribusi terhadap kesulitan pasien dalam membuang barang. Dikatakan oleh Dr. Tolin, ada perasaan subjektif bahwa keputusan yang salah sedang dibuat.
Ketidakmampuan untuk memilah barang kemudian membuang sebagian karena merasa benda-benda tersebut mungkin masih bisa digunakan atau dianggap memiliki kenangan. Ada keterikatan antara seseorang dengan benda-benda yang dimiliki.
Menurut Dr. Randy Frost, profesor psikologi di Smith College, Northampton, Amerika, personal history ini dianggap memberikan identitas pada diri seseorang dan memiliki barang tersebut dianggap bergengsi.
Penimbunan barang perlahan tapi seiring berjalan waktu dan bertambahnya jumlah barang, membuat setiap sudut ruangan menjadi tempat yang tidak nyaman dan berbahaya. Jika terus menerus dan tidak diatasi gangguan ini akan terus berlanjut.
Akibatnya orang yang hobi menimbun barang tidak bisa, dan tidak akan, dengan leluasa melepaskan barang-barang betapa pun tidak pentingnya, tak peduli betapa tidak aman dan tidak sehatnya lingkungan mereka.
Seperti pengalaman pembawa acara televisi Jasmine Harman dilansir Daily Mail. Jasmine membuat sebuah film dokumenter tentang perjuangan ibunya Vasoulla untuk memerangi penimbunan ekstrem.
Rumahnya di London dipenuhi dari lantai ke langit-langit dengan pakaian, tas mainan, bahkan potongan peralatan rusak yang telah terakumulasi lebih dari 30 tahun.
Jadi jangan anggap sepele hobi menimbun barang, jika dibiarkan berlarut dan akan mengalami kerugian. Mulai dari gangguan kesehatan hingga hubungan antar personal, seperti ditulis Mayoclinic, misal, tidak mau rumahnya di kunjungi orang lain karena malu rumahnya berantakan, dan ada kecenderungan menutup diri.
Sayangnya orang yang hobi menimbun barang sering tidak menyadari bahwa kegemaran mengumpulkan barang ini memiliki masalah cukup berat dan mereka perlu bantuan psikiater atau penata barang profesional.
Ada baiknya kalau Anda juga mengecek kondisi rumah sendiri.
Apakah barang-barang sudah tidak bisa lagi disusun rapi dan akhirnya menumpuk di beberapa ruangan rumah. Seperti lemari pakaian penuh, sehingga baju ditempatkan di luar, sofa tidak bisa diduduki karena tumpukan buku, atau ada banyak barang yang diletakkan di kamar karena sudah tidak muat lagi di gudang.
Rumah menulis, setidaknya jika masih melakukan kebiasaan menyimpan barang tidak terpakai lagi karena alasan nilai sejarah, jarang menyortir barang dan hobi belanja ini itu, maka tampaknya Anda berpotensi menjadi seorang penimbun barang.
Penulis: Febria Silaen

Post a Comment